Tampilkan postingan dengan label Festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Festival. Tampilkan semua postingan

5 Festival Sungai di Asia

Posted by Gilang Biantara Rabu, 05 September 2012 0 komentar
Sriwijaya Post/Sudarwan ILUSTRASI - Sebanyak 24 peserta mengikuti lomba perahu hias pada Festival Sriwijaya XXXVII di perairan Sungai Musi Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (17/6).

KOMPAS.com – Peradaban-peradaban di dunia berawal di tepian sungai. Sungai ibarat memberi kehidupan bagi masyarakat di tepian. Tak heran, berbagai perayaan keagamaan maupun festival budaya kerap diadakan di sungai.

Hampir di setiap negara yang memiliki sungai pasti memiliki tradisi festival sungai. Sehingga, sangat menarik untuk berwisata ke negara-negara yang tengah melangsungkan festival tersebut. Cek beberapa penyelenggaraan festival sungai di Asia berikut dan sesuaikan jadwal liburan Anda.

Festival Kumbh Mela, India. Festival ini merupakan upacara keagamaan bagi umat Hindu di India. Kumbh Mela adalah sebuah ritual ziarah yang dilaksanakan 4 kali dalam 12 tahun. Perayaan ini meliputi 4 lokasi di India yaitu, Allahabad (Prayag), Haridwar, Ujjain, dan Nashik.

Tanggal perayaan bervariasi karena tidak berdasarkan kalender Masehi. Perkiraan tanggal festival mendatang adalah 27 Januari-25 Februari 2013. Dalam ritual ini, orang-orang Sadhu berkesempatan membersihkan dosa-dosa mereka di Sungai Gangga, sungai yang dianggap suci oleh umat Hindu di India.

Mereka mendatangi Sungai Gangga dalam keadaan bertelanjang bulat. Perayaan ini menjadi salah satu perayaan terbesar yang mampu mengumpulkan jutaan orang di satu tempat dalam waktu yang sama.

Festival Bidar dan Perahu Hias, Indonesia. Perayaan ini merupakan perayaan tahunan yang dilaksanakan dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI, yaitu setiap tanggal 17 Agustus. Dalam festival tersebut, pengunjung dapat menyaksikan aneka perlombaan.

Sebut saja kompetisi perahu bidar tradisional, perahu hias, serta kompetisi perahu naga. Lokasi perayaan berada di sepanjang bantaran Sungai Musi, Sumatera Selatan.

Festival Sungai Mekong, Thailand. Bola-bola api naga atau “bung fai paya nak” akan muncul sekali dalam setahun sekali di sepanjang Sungai Mekong. Tepatnya di tepian Sungai Mekong yang berada di Propinsi Nong Khai, Thailand.

Setiap tiga hari di awal bulan Oktober, selama tiga hari, penduduk dan wisatawan berbondong-bondong menyaksikan munculnya bola naga ini. Oleh sebab itu, kegiatan ini pun disebut sebagai Perayaan Sungai Mekong.

Kepercayaan penduduk setempat menyebutkan bahwa bola-bola api tersebut datang dari seekor naga yang berdiam di dalam sungai. Para ilmuwan tentu memiliki penjelasan ilmiah. Mereka menjelaskan bahwa bola api tersebut muncul akibat pembakaran gas alam.

Selama festival, tak sekedar bola api yang akan menarik perhatian pengunjung. Walaupun bola api menjadi daya tarik utamanya. Pengunjung juga akan disuguhi atraksi lain seperti kembang api dan perlombaan kapal cepat.

Festival Peh Cun, China. Perayaan ini dikenal dengan Festival Perahu Naga. Festival tersebut merupakan simbol pemujaan terhadap Dewa Naga masyarakat China.

Perayaan Peh Cun dilaksanakan di daerah sebelah selatan Sungai Yangtze. Peh Cun diselenggarakan pada tanggal lima bulan kelima berdasarkan penanggalan China. Pada tahun 2013, Peh Cun diperkirakan jatuh pada tanggal 13 Juni 2013.

Festival Tenjinmatsuri, Jepang.
Perayaan Tenjinmatsuri merupakan salah satu festival terbesar di Jepang. Perayaan dilaksanakan Sungai Okawa, Kota Osaka. Festival tersebut biasa diselenggarakan setiap tanggal 24 dan 25 Juli.

Pada acara puncak, terdapat prosesi darat  atau riku togyo dan prosesi perahu atau funa togyo. Saat perayaan, Sungai Okawa dipadati lebih dari 100 perahu yang mengikuti acara perayaan dan dimeriahkan dengan pesta kembang api.


View the original article here


Baca Selengkapnya ....

Festival Mutiara di NTB, Ajang Bisnis dan Wisata

Posted by Gilang Biantara Kamis, 16 Agustus 2012 0 komentar
ASITA SURYANTOMutiara LombokKOMPAS IMAGES/I MADE ASDHIANAWisatawan tiba di Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat.KOMPAS/KHAERUL ANWARSelain kecepatan, joki menjadi kunci pengendali agar sepasang kerbau bisa merobohkan sakak (tiang kayu) dalam lomba barapan kebo. Lomba ini merupakan permainan kelompok etnis Sumbawa di Pulau Sumbawa, seperti yang diadakan di Desa Melase, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Minggu (3/6/2012). KOMPAS/SAMUEL OKTORAJuru pelihara situs Lengge Wawo, Jota Karim, mengitari area lengge dan jompa yang sudah berusia tua, di dalam kompleks situs Lengge Wawo, Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/12/2011). Hingga saat ini, jompa atau lengge, yang merupakan bangunan semacam lumbung untuk menyimpan bahan makanan seperti padi, jagung, jawawut, biji-bijian, atau kacang-kacangan, itu masih lestari.

Festival mutiara bertajuk “Lombok Sumbawa Pearl Festival” (LSPF) kembali akan digelar di Hotel Lombok Raya Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 29 Juni – 1 Juli 2012. Tahun ini menjadi kali ketiga penyelenggaraan LPSF yang sudah berlangsung 2010.

“Festival ini bukan hanya untuk menunjukkan NTB sebagai destinasi untuk wisatawan mancanegara tetapi citra destinasi nusantara yang handal. Serta mendorong perekonomian di NTB dengan produk lokal yang sudah mendunia, yaitu mutiara,” ungkap Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) M. Faried, pada saat jumpa pers LSPF di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Senin (25/6/2012).

Sementara itu, masih dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur NTB Badrul Munir mengungkapkan mutiara yang dibudidayakan di Lombok dan Sumbawa memiliki banyak ragam mulai dari kelas paling atas sampai kelas paling bawah.

“Makanya dalam festival ini nanti, kami akan menggelar mutiara-mutiara yang khas NTB, termasuk mutiara-mutiara yang diproduksi negara-negara lain. Sehingga pengunjung bisa membedakan mana yang asli dan membandingkan kualitas dengan negara-negara lain,” kata Badrul.

Ia menambahkan daya pikat mutiara akan menjadi andalan Provinsi NTB untuk menarik kunjungan wisatawan ke Lombok dan Sumbawa.

Senada dengan hal tersebut, Bambang Setiawan dari Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia mengatakan berdasarkan pengalaman festival di tahun sebelumnya, pengunjung dari luar negeri yang datang memang hanya sebagai buyer (pembeli mutiara).

“Pertama memang datang hanya sebagai buyer. Berikutnya pasti datang bersama keluarga dan teman, dan mereka pun menjadi turis. Suatu tantangan buat kami, untuk lebih mempromosikan destinasi-destinasi wisata lainnya,” tutur Bambang.

Menurutnya, tahun lalu ada banyak pembeli yang menanyakan obyek-obyek wisata yang ada di Lombok dan Sumbawa. Sehingga, lanjut Bambang, perlu pengarapan lebih lanjut untuk tur-tur ke obyek wisata saat festival. Sebab para pembeli tersebut akan berubah dari urusan bisnis menjadi turis.

LSPF 2012 diselenggarakan oleh Kemenparekraf bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB serta didukung Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia. Selama festival berlangsung akan digelar serangkaian acara antara lain pameran, lelang, dan panen mutiara, fashion show, pentas seni budaya, pemilihan Puteri Mutiara 2012, serta aneka lomba seperti fotografi, mewarnai, cukli dan kreasi jilbab.

Lombok-Sumbawa  selain menjadi destinasi pariwisata unggulan Provinsi NTB, juga sebagai sentra perdagangan mutiara terbesar di Indonesia. Produk mutiara hasil budi daya para petani mutiara dari Indonesia diekspor ke berbagai negara produsen perhiasan mutiara dunia seperti New York (Amerika Serikat), Tokyo (Jepang), Jenewa dan Zurich (Swiss), serta Milan (Italia).

Selama berlangsungnya LSPF 2012 akan diselenggarakan acara lelang mutiara. Tahun ini pihak panitia menargetkan nilai transaksi sebesar 120.000 dollar AS dan diikuti 20 pembeli lokal dan internasional antara lain dari Perancis, Hongkong, Jepang, Singapura, Filipina, dan Tahiti.


Baca Selengkapnya ....

Festival Danau Sentani Resmi Ditutup

Posted by Gilang Biantara Senin, 09 Juli 2012 0 komentar
KOMPAS/ADI SUCIPTO Tarian perang, felabhe, membuka Festival Danau Sentani V di Kholkhote Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua Selasa (19/6/2012). Tarian itu diikuti total 500 orang dari 24 kampung.

SENTANI, KOMPAS.com - Festival Danau Sentani (FDS) resmi ditutup pada Sabtu (23/6/2012) oleh Bupati Jayapura Jansen Monim. Festival budaya yang bertempat di Pantai Khalkote, Danau Sentani, Kabupaten Jayapura ini  merupakan ajang tahunan yang kelima kali dan berhasil menyedot hampir 100 ribu wisatawan.

"Tahun ini, jumlah pengunjung mencapai 97.835 orang dengan perputaran uang terjadi selama festival Rp 5,4 milyar," kata Jansen dalam sambutan penutupan FDS V.

Hanya saja, lanjut Jansen, dalam perjalanan penyelenggaraan, FDS mengalami perkembangan yang tak berimbang terutama sektor kerajinan dan seni. Sehingga, katanya, perlu dukungan dari pemerintah maupun swasta. "Kerajinan khas Papua dapat meningkatkan kunjungan wisatawan. Pantai Khalkote bisa menjadi pusat seni dan kerajinan. Sehingga bisa berdampak pada ekonomi rakyat," tuturnya.

Ia menambahkan, Pantai Khalkote dapat dikembangkan menjadi pusat seni dan kerajinan khas Papua. Sebab, lanjutnya, Pantai Khalkote yang berada di tepi Danau Sentani dekat dengan akses transportasi yaitu Bandara Sentani dan akses ke pemerintahan yaitu Kota Jayapura juga mudah "Tari perang Felabhe yang ditampilkan di pembukaan mirip seperti Tari Kecak di Bali. Tarian ini dapat menjadi daya tarik dan promosi untuk Festival Danau Sentani ke depan," jelasnya.

Di FDS, pengunjung dapat melihat berbagai tradisi khas Papua. Seperti cara pembuatan sagu secara tradisional, anyam rambut keriting, lomba dayung, suling tambur, dan pertunjukan tradisi lainnya.

Belum lagi aneka suguhan tari-tarian tradisional. Pilihan lain adalah berwisata kuliner di sepanjang tepi danau yang menjadi tempat festival.  Para wisatawan dapat mencicipi aneka makan an khas seperti papeda sampai mencoba pinang sirih kegemaran orang Papua. Pengunjung juga diajak menikmati tur wisata berupa tur Danau Sentani, tur kanal, dan tur kota Sentani.

Aneka kerajinan khas Papua seperti batik Papua dan noken juga dapat dibeli di festival ini. FDS berlangsung mulai tanggal 19-23 Juni 2012. Jika Anda terlewatkan FDS tahun ini, Anda dapat mengikuti festival tersebut tahun depan. FDS kali keenam menurut rencana diselenggarakan pada 19 Juni 2013.


View the original article here


Baca Selengkapnya ....

Suka Makan Bacang Yuk, ke Festival Bacang!

Posted by Gilang Biantara Minggu, 08 Juli 2012 0 komentar
NATALIA RIRIH Chief Operating Officer GCC, Martono Hadipranoto (kanan) dalam jumpa pers Festival Bacang di Green Central City (GCC), Jakarta Pusat, Selasa (19/6/2012).

Makanan khas Tionghoa, bacang, kini telah beradaptasi dengan budaya asli berbagai daerah di Indonesia. Untuk melihat seperti apa aneka wujud bacang beserta isinya, pada 22 - 24 Juni 2012 nanti akan digelar Festival Bacang di Gedung Candra Naya, yang merupakan bangunan mixed use Green Central City (GCC), Jakarta Pusat.

Selama berlangsungnya festival di akhir pekan ini, GCC akan memperkenalkan berbagai jenis bacang yang ada di Indonesia. Aneka bacang ini bakal didatangkan dari berbagai daerah, baik dari Jakarta, Semarang, dan daerah-daerah lainnya.

Festival selama tiga hari itu juga akan diramaikan dengan Pameran Perahu Naga, bazar makan an khas kawasan Pecinan, pertunjukan seni dan budaya, dan beragam lomba seperti lomba makan bacang, lomba mendirikan telur, lomba melukis lampion, serta diskusi buku dan demonstrasi memasak bacang.

Chief Operating Officer GCC, Martono Hadipranoto, mengatakan pihaknya sangat mendukung dilaksanakannya Festival Bacang di Candra Naya. Dukungan tersebut sebagai wujud komitmen menghidupkan warisan budaya dan sejarah di bangunan peninggalan abad ke-19 ini.

"GCC ini dibangun dengan komitmen tinggi terhadap peninggalan sejarah. Tujuan festival ini sendiri untuk kembali memperkenalkan acara perayaan Peh Cun," kata Martono.

Pengamat budaya China, David Kwa, mengatakan makan an khas bacang dikenal di Indonesia seiring masuknya gelombang pendatang dari daratan China ratusan tahun silam. Dari berbagai legenda yang hidup di kalangan China peranakan, perayaan Peh Cun merupakan satu dari tiga perayaan terpenting dalam kalender China setelah Imlek atau tahun baru dan hari raya Kue Bulan atau Tiong Jiu.

Martono mengatakan, berdasarkan keyakinan masyarakat Tionghoa, pada tanggal 5 bulan 5 kalender lunar adalah hari Duan Wu. Di Indonesia, hari tersebut dikenal sebagai Peh Cun yang terkenal dengan makan an bacangnya.

"Menurut tradisi orang China, ada empat hal ketika orang Tionghoa merayakan Duan Wu, yakni membuat dan memakan bacang, mendirikan telur, mengadakan lomba perahu naga, serta mandi di tengah hari," kata penulis buku 'Peranakan Tionghoa Indonesia' ini.

Tokoh masyarakat Tionghoa di Jakarta, Hartati Ardiarsa, mengatakan, ketika masuk ke Indonesia, budaya China ikut melebur dan mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal. Ia mengakui, perayaan Peh Cun di Indonesia kini banyak berubah. Meski demikian, hal paling penting adalah bagaimana generasi penerus mampu menjadikan perayaan tradisional itu menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.


Baca Selengkapnya ....

Festival Siti Nurbaya Kalah Pamor dengan TdS 2012

Posted by Gilang Biantara Sabtu, 23 Juni 2012 0 komentar
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Para pebalap melintasi Danau Atas di Kabupaten Solok, Sumatera Barat dalam Tour de Singkarak 2012 etape kelima, Jumat (8/6/2012). Pebalap dari Uzbekistan Suren Team Hamid Shirisisan menjadi yang tercepat dalam etape yang menempuh jarak 149 kilometer dari Padang Panjang menuju Dabau Singkarak tersebut.

Festival Siti Nurbaya telah berlangsung pada 3-11 Juni 2012. Namun gaung festival tersebut terkalahkan oleh Tour de Singkarak (TdS) 2012, ajang balap sepeda internasional yang berlangsung di 14 kabupaten dan kota Sumatera Barat sejak 3-10 Juni 2012.

"Ada Festival Siti Nurbaya sedang berlangsung. Memang jadi kalah pamor dengan Tour de Singkarak. Tapi masih ada sampai besok (hari ini)," kata Wali Kota Padang, Fauzi Bahar di etape akhir TdS, Minggu (10/6/2012).

Ia menuturkan festival tersebut berlangsung di Pantai Padang. Aneka kegiatan seperti penampilan kerajinan, seni budaya, sampai lomba pembuatan lemang, serta wisata kuliner khas Minang.

"Lemang dibagikan gratis ke pengunjung. Masih ada sampai Senin," tuturnya.

Awalnya, festival tersebut sengaja ditempatkan di tanggal yang sama dengan TdS agar para peserta TdS dapat mengikuti atau berkunjung ke Festival Siti Nurbaya. Namun, tidak semua hari selama penyelenggaraan TdS berlangsung di Padang. Padang sendiri baru kebagian menjadi titik start dan finis di etape ke-7 atau etape terakhir sebagai puncak acara.

Festival selanjutnya yang akan berlangsung di Padang adalah Festival Rendang yang menampilkan berbagai olahan rendang dari berbagai kecamatan. Festival tersebut akan diselenggarakan pada 26-27 Juni 2012. 


Baca Selengkapnya ....

recent post

TEMPLATE CREDIT:
Situs Booking Online Hotel di Garut - Original design by Bamz | Copyright of Puncak Darajat.